The Modern SDR: Playbook

Panduan Sukses untuk Tim Sales PT Ruveetex Abadi Jaya

Menghubungkan Strategi ke Aksi di Lapangan

Selamat datang di panduan taktis untuk Sales Development Representative (SDR) PT Ruveetex. Materi ini adalah kelanjutan langsung dari sesi Analisis Strategis B2B kita. Jika sebelumnya kita membahas 'peta perang' (PESTLE, Matriks Segmen, VPC), sekarang kita akan melengkapi setiap prajurit (SDR) dengan 'senjata dan taktik' untuk memenangkan pertempuran di lapangan.

Fokus kita adalah menerjemahkan strategi besar menjadi aktivitas harian yang efektif untuk segmen prioritas kita: Konveksi UMKM di industri modest fashion.

Identifikasi Target Prospek
Strategi Cold Outreach
Cadence & Penanganan Keberatan
Persiapan Panggilan Awal
Manajemen CRM & Handoff
Mindset Revenue Generator

Era SDR telah berubah. Dulu, fokusnya adalah volume. Sekarang, SDR modern PT Ruveetex harus cerdas, strategis, dan relevan dengan pasar tekstil yang dinamis.

Mindset Lama 낡

"Yang penting broadcast info kain baru ke semua kontak."

Mindset Baru ✓

"Saya menghubungi konveksi A karena saya lihat mereka aktif membuat gamis, dan kain crinkle terbaru kita sangat cocok untuk model mereka."

Skillset SDR Modern PT Ruveetex

Menjadi SDR modern bukan hanya soal mengirim pesan, tapi menjadi multi-talenta:

  • Mini-Marketer: Mengerti mengapa "kualitas terjamin" dan "konsistensi warna" adalah pesan utama kita.
  • Mini-Analyst: Tahu bedanya prospek konveksi gamis dan produsen kemeja, dan mana yang jadi prioritas.
  • Mini-Copywriter: Bisa membuat pesan yang menarik tentang tren warna kain terbaru.
  • Mini-Psychologist: Paham bahwa "harga tidak stabil" adalah 'pain point' utama konveksi UMKM.
  • Mini-Sales Coach: Mengerti kapan harus menawarkan sampel dan kapan harus mengajak meeting.

Sesuai hasil Analisis Matriks Segmen, fokus utama kita adalah "Konveksi UMKM". Maka, kita harus membedah siapa mereka dan siapa orang yang perlu kita ajak bicara.

Ideal Customer Profile (ICP) Kita

Perusahaan/bisnis yang paling cocok menjadi pelanggan PT Ruveetex.

Contoh Spesifik: Konveksi UMKM di industri modest fashion (gamis, hijab), berlokasi di Jabodetabek, memiliki 5-15 mesin jahit, aktif di media sosial (Instagram/TikTok), dan sering mengeluhkan kualitas & stabilitas harga dari supplier lama.

Buyer Persona Kita

Orang di dalam bisnis tersebut yang merasakan masalah dan punya wewenang mengambil keputusan pembelian bahan.

Contoh Spesifik: Ibu Aisyah, 35 tahun, Owner "Aisyah Hijab". Dia yang memilih kain, pusing kalau warna belang, dan ingin supplier yang bisa jadi partner diskusi tren.

"Jangan buang waktu menawarkan kain brokat ke konveksi gamis katun. Relevansi adalah kunci."

"Mencari data konveksi bukan soal rajin scroll Instagram, tapi soal punya sistem." Kita perlu memperkaya data dasar dengan konteks yang relevan.

Scrap (Data Mentah)

Nama: "Aisyah Hijab", Kontak: 0812-xxxx-xxxx.

Enrich (Data Diperkaya)

Nama: "Aisyah Hijab", Kontak: 0812-xxxx-xxxx. Trigger: Baru saja posting story cari supplier rayon twill. Produk unggulan: Gamis model A-line. Pain Point Terlihat: Sering ganti supplier (terlihat dari variasi kain di post).

Ciri-ciri Prospek Konveksi yang Siap Dihubungi

  • Nomor WhatsApp valid: Wajib untuk memulai komunikasi.
  • Owner atau Purchasing teridentifikasi: Pastikan Anda bicara dengan pengambil keputusan.
  • Bisnis sesuai ICP: Memproduksi gamis/hijab, skala UMKM.
  • Ada trigger (konteks): Contoh: "Saya lihat Ibu kemarin posting cari supplier kain rayon..."

Prospek tidak butuh semua info tentang PT Ruveetex. Mereka hanya butuh tahu mengapa mereka harus membalas pesan Anda. Gunakan framework ini untuk pesan WhatsApp atau DM.

1. RRR Framework (Relevance - Reward - Request)

Cocok untuk pesan WhatsApp pertama yang singkat & to the point.

"Pagi Bu Aisyah, saya lihat koleksi gamis rayon twill-nya di Instagram, bagus sekali! (Relevance). Kami di Ruveetex bantu banyak brand seperti Ibu dapat jaminan konsistensi warna dan stabilitas harga (Reward). Boleh saya kirim katalog warna terbaru kami via WA? (Request)"

2. AIDA Framework (Attention - Interest - Desire - Action)

Untuk pesan yang lebih naratif namun tetap singkat.

"Pagi Bu Aisyah, saya lihat postingan Ibu sedang cari supplier kain baru (A). Biasanya ini karena supplier lama warnanya belang atau stoknya tidak pasti (I). Bayangkan jika produksi Ibu bisa lancar tanpa pusing soal itu. Kami punya sistem QC berlapis untuk menjaminnya (D). Tertarik lihat video singkat proses QC kami? (A)"

Keberatan dari pemilik konveksi adalah hal biasa. Jangan langsung mundur, ini adalah kesempatan untuk mengedukasi nilai yang kita tawarkan, sesuai dengan materi BATNA di training sebelumnya.

1. "Harga di Ruveetex lebih mahal dari langganan saya."

"Betul, Bu. Saya paham harga sangat penting. Boleh saya jelaskan, harga kami itu sudah termasuk 'asuransi' untuk bisnis Ibu. Dengan quality control kami, Ibu tidak akan rugi karena dapat kain belang yang tidak bisa dijual. Jadi, selisih sedikit itu untuk jaminan ketenangan produksi Ibu."

2. "Saya sudah nyaman dengan supplier lama."

"Bagus sekali jika sudah ada partner yang cocok, Bu. Tujuan kami bukan untuk menggantikan, tapi menjadi 'ban serep' premium Ibu. Saat supplier utama kehabisan stok warna best-seller, Ibu bisa langsung kontak kami. Bagaimana jika kami kirim sampel warna terbaru kami dulu, tanpa komitmen apapun?"

3. "Stok saya masih banyak."

"Siap, Bu. Justru ini waktu yang tepat untuk riset. Saya tidak akan menawarkan untuk beli sekarang. Boleh saya kirim 'Laporan Tren Warna Lebaran 2026' dari tim kami? Supaya saat stok Ibu menipis, Ibu sudah punya referensi warna yang pasti laku."